Aku menenggak racun setiap hari
Atas..
Hati yang rusak
Ide yang berkarat
Tubuh penuh peluh
dan Sunyi yang memecahbelah
Aku menenggak racun setiap hari
Menghindari..
Hantu masa lalu
Hidup yang kacau
Panik yang meracau
dan semua-yang-tidak-bisa-diterima dari diri ini
Aku menenggak racun setiap hari
Untuk..
Membunuh cinta palsu dalam hati
(Mencoba) pura-pura mati
Demi simpati, dan
Untuk menulis kegelisahan yang tak akan pernah berbalas
Mereka memaksaku meneguk racun setiap hari
Karena..
Itu adalah propaganda
Kepercayaan artifisial
Tuhan buatan manusia
dan
Baris terdepan di hari akhir.
Dan racun itu habis
Panik meracau
Kehidupan kacau
Jalan habis
Hati rusak
Ide rusak
Aku punah.
Jumat, 28 Februari 2014
Rabu, 26 Februari 2014
Negeri di atas Bumi dan Matahari
Aku memperhatikan penguasa
Lalu, dia meludah ke arahku
Aku terkejut sampai tubuhku kejang
Tapi ia tak memperhatikan
Aku lupakan penguasa
Kini aku panen di ladang
Semua hasil jerih payah terbakar
Saat aku tak awas
Penguasa melahapnya puas.
Aku kesal, lalu aku nyanyikan sebuah lagu
antitirani
Mulutku dipaku
Paku-paku itu panas, melelehkan daging
Merekatkan paku dan mulutku, sampai garing
Katanya aku telah berkhianat
Memfitnah penguasa yang apatis dan alpa
Nyatanya, sengaja.
Disini aku sekarang
Di atas tanah gersang pemakaman
Aku geram.
Ada belati dan racun di kedua tangan
Dua jalan yang cepat
yang lambat
yang sangat cepat
'Tuk mengantarku pergi
Ke negeri diatas bumi dan matahari
Sekarang tinggal tersisa pertanyaan
Beranikah aku lari menyerah?
dan
Kenapa aku takut hidup tak mengalah?
Lalu, dia meludah ke arahku
Aku terkejut sampai tubuhku kejang
Tapi ia tak memperhatikan
Aku lupakan penguasa
Kini aku panen di ladang
Semua hasil jerih payah terbakar
Saat aku tak awas
Penguasa melahapnya puas.
Aku kesal, lalu aku nyanyikan sebuah lagu
antitirani
Mulutku dipaku
Paku-paku itu panas, melelehkan daging
Merekatkan paku dan mulutku, sampai garing
Katanya aku telah berkhianat
Memfitnah penguasa yang apatis dan alpa
Nyatanya, sengaja.
Disini aku sekarang
Di atas tanah gersang pemakaman
Aku geram.
Ada belati dan racun di kedua tangan
Dua jalan yang cepat
yang lambat
yang sangat cepat
'Tuk mengantarku pergi
Ke negeri diatas bumi dan matahari
Sekarang tinggal tersisa pertanyaan
Beranikah aku lari menyerah?
dan
Kenapa aku takut hidup tak mengalah?
Just Because, Just 'Because'
Because I think, I create reason
Because I can reason, I tell
Because I can tell, I confuse
Because I can confuse, I trick
Because I can trick, I can lie
Because I lie, I stop lying
Because I stop lying, I give truths
Because I must give truths, I reason
Just because I can reason, I use it
Because I use it to escape and to dodge
Because I can escape, I can't stay
Just because I can't stay, I can't escape
Because I can't escape, I reason
Just because I reason, I am confused
Because I am confused, I think
Just because I think, I am alive
Because I am alive, then I must be existent
But Just because I must be existent, it doesn't mean I exist
Just because I exist, I have to live
But just because I have to live, I don't have to reason
to lie
to trick
to escape
Because I just have to think and to reason.
Because I can reason, I tell
Because I can tell, I confuse
Because I can confuse, I trick
Because I can trick, I can lie
Because I lie, I stop lying
Because I stop lying, I give truths
Because I must give truths, I reason
Just because I can reason, I use it
Because I use it to escape and to dodge
Because I can escape, I can't stay
Just because I can't stay, I can't escape
Because I can't escape, I reason
Just because I reason, I am confused
Because I am confused, I think
Just because I think, I am alive
Because I am alive, then I must be existent
But Just because I must be existent, it doesn't mean I exist
Just because I exist, I have to live
But just because I have to live, I don't have to reason
to lie
to trick
to escape
Because I just have to think and to reason.
Rabu, 25 Desember 2013
Sebuah malam
malam mulai usang
semua berhenti berpetualang
dan aku sedang menyaksikan pertunjukan
dimana anak-anak kilat palsu
bermain membentuk bayangan
aku tidak sabar
kapan selanjutnya ia akan berpendar
lalu aku kecewa
bayangannya keburu berlalu
sekarang angan-anganku semu
dengung mesin masih riuh
mereka seperti lebah-lebah yang marah
malam ini akan berakhir
beserta dengan keajaibannya
begitu mobil ini melewati loket pembayaran parkir
lalu semua tinggal ingatan, kenangan!
apa itu kenangan!
hanya masa-masa indah dimana kamu ingin kembali..
tetapi tidak bisa
karena waktu itu sudah pergi.
semua berhenti berpetualang
dan aku sedang menyaksikan pertunjukan
dimana anak-anak kilat palsu
bermain membentuk bayangan
aku tidak sabar
kapan selanjutnya ia akan berpendar
lalu aku kecewa
bayangannya keburu berlalu
sekarang angan-anganku semu
dengung mesin masih riuh
mereka seperti lebah-lebah yang marah
malam ini akan berakhir
beserta dengan keajaibannya
begitu mobil ini melewati loket pembayaran parkir
lalu semua tinggal ingatan, kenangan!
apa itu kenangan!
hanya masa-masa indah dimana kamu ingin kembali..
tetapi tidak bisa
karena waktu itu sudah pergi.
Sabtu, 14 Desember 2013
Singkat Saja..
Sebelum aku merasakannya..
Aku tahu aku sudah bosan dengan Senja.
Terlalu banyak orang yang tinggal disana
Tidak ada tempat buat duduk, dan udara disana pengap.
Dan aku adalah orang dengan agoraphobia
Takut keramaian.
Lalu aku memutuskan untuk menunggu lebih lama.
Malam datang
Namun Senja keburu pergi
Ikutlah orang-orang pergi.
Malam pun akhirnya ditakdirkan untuk selalu sendiri.
Ia kalah dengan Senja yang lebih populer
Senja yang agung
Senja yang sedikit.
Tapi malam selalu bersabar
Ia terus hidup sampai fajar datang
Rela diabaikan
Agar para penikmat Senja bisa tidur tenang.
Ketika Senja terlalu sibuk untuk segera berlalu
Malam masih tenang, dengan temaramnya menenangkan.
Aku selalu memilih malam di atas senja
Aku tidak butuh Senja
Yang sedikit
Dan yang terburu-buru itu.
Biar orang berkata apapun soal Malam.
Jahat
Buruk
Gelap
Seram
Sesat
Karena aku tidak peduli.
Aku akan menetap dengan Malam.
Aku adalah orang dengan agoraphobia
Malam gelap.
Aku adalah orang dengan agoraphobia
Malam sepi
Aku adalah orang dengan agoraphobia
Malam, tidak ada yang peduli.
Dibalik malam cahaya bersembunyi
Disana keramaian menungguku
Biarlah, tanpa teman hanya Malam hari
Asal mereka tidak menggangguku.
Para fanatik Senja itu.
Aku tahu aku sudah bosan dengan Senja.
Terlalu banyak orang yang tinggal disana
Tidak ada tempat buat duduk, dan udara disana pengap.
Dan aku adalah orang dengan agoraphobia
Takut keramaian.
Lalu aku memutuskan untuk menunggu lebih lama.
Malam datang
Namun Senja keburu pergi
Ikutlah orang-orang pergi.
Malam pun akhirnya ditakdirkan untuk selalu sendiri.
Ia kalah dengan Senja yang lebih populer
Senja yang agung
Senja yang sedikit.
Tapi malam selalu bersabar
Ia terus hidup sampai fajar datang
Rela diabaikan
Agar para penikmat Senja bisa tidur tenang.
Ketika Senja terlalu sibuk untuk segera berlalu
Malam masih tenang, dengan temaramnya menenangkan.
Aku selalu memilih malam di atas senja
Aku tidak butuh Senja
Yang sedikit
Dan yang terburu-buru itu.
Biar orang berkata apapun soal Malam.
Jahat
Buruk
Gelap
Seram
Sesat
Karena aku tidak peduli.
Aku akan menetap dengan Malam.
Aku adalah orang dengan agoraphobia
Malam gelap.
Aku adalah orang dengan agoraphobia
Malam sepi
Aku adalah orang dengan agoraphobia
Malam, tidak ada yang peduli.
Dibalik malam cahaya bersembunyi
Disana keramaian menungguku
Biarlah, tanpa teman hanya Malam hari
Asal mereka tidak menggangguku.
Para fanatik Senja itu.
Jumat, 01 November 2013
Leave It
Good afternoon everyone! It had been a long time since I wrote my last English post. So, I'll try not to screw this up with grammatical errors here and there (which is the main problem that hold me back to write in English besides those fake visitors). I'm not going to write any pathetic, melancholic, useless, weird stuff this time, but rather I will write some kind of review about a song.
First, do not expect me to review it thoroughly or technically. Since I'm not capable of reviewing songs in such way, but I will review it in terms of its music, palpably, and the main focus of this review, its lyrical content or meaning. The song I'd like to review today came from London gentlemen which are creating music in this band called Bombay Bicycle Club, and the song is called "Leave It". What is it about? Is it very deep in meaning or just plain? Well, let's review it out.
I purposefully embed the video up there because, I think the lyrics and the music video have a strong relationship, or in other words, the video visualized what the lyric or the song is about. And I'm not choosing this song randomly, because after hours of hours of crowding my ears with its tunes I strongly believe that this song has something in it.
First of all here are the lyrics, I copy-paste it from the link: http://www.azlyrics.com/lyrics/bombaybicycleclub/leaveit.html
LEAVE IT
Don't think it's what you're afraid of
Come in you know what's been made up
Hold you tight, words have a new sound
Reading the signs that just seep out
You've got to leave it
"Don't you go evade me now
Come see what you've done"
Each of your reasons has broken
Call it off once you have spoken
Filled to the top then split open
Repeating over and over
Now you have to leave it
"Don't you go evade me now
Come see what you've done
I keep thinking lately how
All these feelings won"
Come in you know what's been made up
Hold you tight, words have a new sound
Reading the signs that just seep out
You've got to leave it
"Don't you go evade me now
Come see what you've done"
Each of your reasons has broken
Call it off once you have spoken
Filled to the top then split open
Repeating over and over
Now you have to leave it
"Don't you go evade me now
Come see what you've done
I keep thinking lately how
All these feelings won"
To put it simply, this song is about how we have to accept and move on from something we have lost, generally. But if I review it per stanza of the lyrics, then it became a more complex interpretation. Oh yes, before I start to review it per two lines or more, I see the lyrics of the song is came from a first person that is talking to the third person. The first two lines of the lyrics "Don't think it's what you're afraid of/ Come in you know what's been made up" is about the first person saying to the other that "it is not something you have to be afraid of", and then the first person seems to have the other to not turn away from what he/she has lost and ask the person to see and not to forget what the person has lost. Then the part "Hold you tight, words have a new sound/ Reading the signs that just seep out/ You've got to leave it" is about the first person who is there, beside the other and supporting him/her. About the part "words have a new sound", I am not quite sure but, I think it is about the other person's surroundings and facts that have changed since the loss. and then the next part is likely not too far and connected to the previous part and it is about seeing how everything changed since and it is likely that the change brings the other person sadness, which he/she has to "leave it" outright.
The first chorus "Don't you go evade me now/ Come see what you've done" is about the first person telling the other to not turning his/her back away from the loss and face the loss.
Going to the second verse, it seems that I cannot review it part by part, because they are connected to each other and they are a unity. The second verse is about how the other person keep reasoning about the loss to run away from it or forget it, but the person seems cannot ignore the fact that something has lost from him/her so the reasons made is useless. And again, he/she has to (accept and) "leave it".
The second chorus is the same as the previous chorus with the exception that it has been added with "I keep thinking lately how/ All these feelings won". Honestly the additional sentences there confuse me, and it seems, because the additional sentences, the song has two "endings". First ending is that "these feelings" the first person mentioned is about that feelings of constancy, patience, with the presence of love and hope make the third person in loss "won" his/her struggle with the sadness of loss. The second ending, however, is not a quite pleasant ending. It is about "these feelings" of despair, sadness, and other unpleasant feelings that unpleasantly "won" over the third person and made the first person in a confusion of "how he/she cannot accept it and move on?"
The video I embed on top is the means to understand this song appropriately. I will not explain what happened in the video scene by scene, but rather I will summarize what is inside it and what is it about. The video, at first, showing all four members of the band and then moving in circle and showing different people with different background. It is showing the cycle of life and also what happened in life the most: gain and loss. The video shows how human, people are born to the world, life their live, and then gain something when they are growing up, but also lose something in life too. The video finally ends showing people in black suit and a woman in black, in black veil, holding a jar of the deceased ash and then shooting one candle that is still aglow and then died, all in the same circular shooting manner.
To summarize this review, the song is telling its listeners that loss is something that is just waiting to be happened and will be happened for sure, but we cannot sad or mourn over it for too long. We have to be strong, we have to accept it, we should not forget about it.
Thank you for your attention! (that is, if there is someone or some ones reading this with attention) Please don't be offended or thinking that I am a smartass. No, I'm not. All of those words I have written is truly and purely based on my opinion. If you have other different interpretation about it, or critics or suggestion but (please) not any negative response to it (and to me), please comment and let me know. Bye for now.
Kamis, 31 Oktober 2013
Dalam Ruangan Kosong
Suatu hari saya masuk ke sebuah ruangan kosong
Meskipun kosong, disana ada satu orang
duduk sendiri dan terdiam
Cuma tembok kaku dan dingin
Sayup-sayup angin berbisik
Dan kegaduhan orang-orang di lantai bawah
yang menemaninya.
Tadinya saya mau duduk di sebelah dia
Tapi tidak jadi.
Jadi saya pilih Kursi paling depan
dan bersamanya, duduk termenung bersamaan.
Di dalam kesepian itu
Saya berpikir, dunia ini terlalu ramai
Terlalu banyak manusia di dalamnya
Terlalu banyak manusia di bumi yang
Tidak ada di ruangan ini.
Lalu saya berganti khayalan
Bagaimana kalau saya dan dia
Seperti Adam dan Eva
dan ruangan ini diibaratkan sebagai Dunia
Tapi bedanya,
Tuhan mentakdirkan kita untuk terus hidup berdua
Kita mungkin bisa terus bercinta
Di dalam kegelapan dengan semua peluh dan suara desah dan desis
Tapi tetap, Kita hanya bisa hidup berdua.
Bahkan, sebenarnya
Kami berdua telah menjadi Adam dan Eva
Kami berdua adalah Adam dan Eva yang hidup dan duduk
Di masing-masing kesibukan dengan kesendirian.
Harapan, di saat-saat seperti ini, sama dengan ejekan.
Saya yakin kami sama-sama berharap, akan ada yang masuk lewat pintu di depan sana
Karena dari tadi suara sepatu bolak-balik melintasi ruangan ini
Tapi tak ada satupun yang masuk untuk mengisi.
Saya kira saya adalah makhluk paling menyedihkan
Dan paling menderita di ruangan ini
Karena saya tidak tahu harus berbuat apa dengan waktu dan ruang
Yang keduanya sama-sama kosong.
Ini namanya mubazir, kata orang.
Tapi ternyata saya punya teman, ya.. itu
Dia yang duduk di baris ke lima setelah saya.
Saya yakin dia telah melihat saya memasuki ruangan
dan seharusnya tidak ada urusan lagi untuk melihat ke arah saya
dan mengamati saya. tidak ada gunanya
tidak penting.
Tapi mata di belakang kepala saya seakan-akan membohongi
Saya terus-menerus semenjak saya duduk dan menghabiskan waktu
Kurang lebih 10 menit sejak saya duduk.
Ia memberi peringatan (salah) bahwa orang di belakang melihat tepat ke arah saya
Ia meyakinkan saya kalau dia berkata "Dasar orang aneh, duduk diam disana seperti
orang bodoh. Dia pasti tidak punya banyak teman atau tidak punya sama sekali,
Makhluk menyedihkan!"
Itu bohong. Di ruangan yang hanya diisi oleh desis angin dan gema keributan dari bawah ini
Saya bisa mendengarnya bernafas, dan tak ada kata-kata yang keluar darinya.
Dan bodohnya, saya percaya.
Ruangan yang luas karena kekosongan ini seharusnya dingin
Tapi saya berkeringat tidak terkendali karena kebohongan mata belakang
yang saya percayai.
Jantung saya meledak-ledak, saluran pernapasan saya menyempit
Tersumbat kegelisahan dan ketakutan.
Dan betapa Tuhan, makhluk-makhluk langit, setan, dan saya sendiri tahu
betapa munafik dan konyolnya saya saat ini,
yang memasang tampang tenang ketika jiwa saya bergoncang hebat di dalam.
Orang itupun tak kalah mengintimidasi saya kembali,
Suara velcro yang ditarik, gesekan sebah benda dengan permukaan dalam tas,
ritsleting yang berderik, celetukan tabung pulpen, dan benturan bola logam dalam
tip-ex.. Demi Tuhan! apa yang akan ia lakukan? Apa ada sesuatu yang saya tidak tahu
dan akan saya harus lakukan hari ini di ruangan ini? Apa yang ia tahu? Apa yang saya tidak tahu?
Apa yang membuat saya tidak bisa mencoba untuk mencari tahu? Sial! Sial! Sial!
Saya tidak punya alat apapun untuk membuat saya terlihat sibuk. Sial! makin bodoh dan tidak berguna
Saya terlihat!
Dihadapkan pada situasi seperti itu, saya tidak mau terus diam
Tapi.. Keluar? Tidak bisa. Buat apa keluar? Saya akan hanya terlihat kikuk
dan terlihat oleh lebih banyak orang. Mengambil buku dan pensil? Buat apa?
Saya sedang tidak bisa menulis ataupun menggambar, dan lagipula
Itu hanya membuat saya lebih konyol karena saya akan dicap sebagai peniru
Oleh yang di belakang, menurut saya.
Saya hanya bisa diam.. diam.. terus berdiam
dan mati, karena eksistensi saja tidak jelas
dan tujuan hidup (di ruangan ini) tak terarah.
Kesunyian ini memberikan detak jam di depan ruangan
terdengar sangat jernih. Saya tidak pernah mendengar detakan
Yang jelas, jernih, keras seperti ini.
Melihat ke dalam lingkaran yang di dalamnya terdapat 3 jarum yang
mengatur waktu, dengan 12 sampai 60 angka di dalamnya, membawa saya untuk
masuk ke sana dan mengatur ulang apa yang terjadi..
Sehabis melihat ke arah jam itu, seharusnya.. saya harus berdiri, memutar badan ke belakang
lalu berjalan mendekati satu-satunya orang di belakang.
lalu saya akan berkata "boleh saya duduk disini?" yang dimana "disini" berarti di sebelah kiri
orang itu.
Saya akan bertanya "maaf, dari mana ya?" dan selanjutnya (tentunya) akan dijawab dengan
Kelas, angkatan, jurusan, dan mungkin tanpa diduga menyakan pertanyaan balik yang sama
Setelah itu mungkin saya dan orang itu akan bertukar informasi soal nama.
Saya berkeinginan untuk menyuarakan betapa bodohnya kesunyian ini, dan orang itu mungkin
akan membalasnya dengan nada, intonasi, volume, dan gaya bahasa yang hampir sama dengan saya.
Setelah itu mungkin kita akan bercerita soal kehidupan masing-masing
Bagaimana payah, sepi, datar, tak bertemannya kehidupan saya dan bagaiamana sibuknya, ramainya, bahagianya kehidupan orang itu. Namun, bisa saja kita berdua bernasib sama.
Bisa saja, juga, saya akan jatuh cinta dengan orang itu. Karena suaranya yang merdu saat orang itu
menjatuhkan pulpennya dengan tidak sengaja,
Atau bisa jadi karena ekspresi muka orang itu, saat saya melihat sepintas
saat saya mengamati ruangan kosong ini.
Selanjutnya mungkin saya akan bilang "Seharusnya kamu tidak sendiri, pasti ada yang berkewajiban
menemanimu" itu strategi
Dan mungkin orang itu akan bilang "Menemani? tidak, saya tidak punya seseorang yang seperti itu." itu hasil dari strategi tadi.
Lalu, mungkin, saya akan melanjutkan strategi selanjutnya "itu aneh karena.. pasti
banyak orang yang ingin menemanimu"
Dan.. kita mungkin bisa lebih dekat sejak saat itu.
Ternyata sudah sangat lama saya menatap jam di depan
Dan saya baru terbangun ketika ada getaran dari ponsel dalam saku
"Kelas tidak ada hari ini, Kasih tahu yang lain saya sedang tidak bisa mengajar karena
harus menguji mahasiswa di sidang skripsi." itu yang tercetak di layar yang tidak lebih
besar dari kartu mahasiswa.
Mungkin ini tandanya, untuk berbalik ke belakang dan mendekati orang itu
dan melaksanakan strategi tadi.
Ponsel sudah masuk ke dalam saku, tas sudah digantungkan di sebelah bahu,
nafas sudah tenang tidak memburu, dan kaki-kaki saya sudah sangat siap
Berjalan ke kemenangan di bagian belakang ruangan
Dan bagaimana saya sangat terpukau ketika
Entah berapa lamanya saya menatap jam
Entah berapa lama pesan itu sampai dan
Entah berapa lama saya bertopangdagu di depan,
menatap jam, tidak menghiraukan desis angin
tidak menghiraukan gema keributan di bawah, dan tidak menghiraukan orang itu yang beranjak pergi
entah sejak kapan, melalui pintu depan.
Langganan:
Postingan (Atom)