Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Maret 2013

Waktu

Bagaimana caranya
menghadapi sesuatu yang akan pergi?
Terlalu banyak permainan dalam berbagai kesempatan dan situasi.
Terlalu banyak yang bermain dan dipermainkan.

Mainkan aku, sebuah Blues itu
ya, aku meminta kepadamu.

Musik adalah bahasa yang universal.
Aku butuh sebuah lagu.

Sangat sedikit yang dapat diungkapkan mulut
Saat hati dan pikiran sedang ingin tertutup.


Kau selalu bisa mendendangkannya lewat lagu.
kau tahu itu.
Katakan,
"Aku akan tinggal dan memberimu waktu."

Setiap hari adalah pagi yang beku dan dingin
sampai mulut siapapun beku, tak tergerak
Terlambat sudah, hasrat untuk kembali lagi
sudah terbang menjauh dari kata-kata pulang, mendekat ke arah pergi.

Apa yang terjadi di antara kita?
Kita bermain, kita larut dalam biru, kita mencoba menyatakan sesuatu.
Bukan soal yang benar, tapi lebih ke arah sebaliknya.
Dan semua ketidaktahuanku ini, membuatku tak bisa mengungkapkan apapun.
apa saja.

Aku bersedia untuk selalu ada di sana
Saat kau turun menjemputku untuk bersama melewati waktu.
Namun.
Semua kebodohan ini membuatku tidak memiliki lagi, kamu.
Hanya harapan-harapan kosong agar kau kembali
dan andai aku punya lebih banyak waktu.

Bandung, 16 Maret 2013

credit:
Terima kasih untuk Oasis.. terutama Liam Gallagher atas vokal anda di "Don't Go Away" yang menginspirasi.

Minggu, 10 Maret 2013

Berharap pada Berhala

Kami membangunmu dari perunggu
perak dan emas.
semakin agung kau terlihat
semakin posisimu ada lebih atas.

Jadikan aku raja, carikan aku sepasang ratu!
Aku ingin semua realita ini tertutup dari pandanganku.
tapi kemana pandangan sepasang mata itu?
Bulat, mengkilat, ada saat terpahat.

Kami tak mengerti, ini semua sia-sia
kami telah terbiasa.
memandang sesuatu yang nyata
sama dengan membuat diri-diri ini percaya.

Kirimkan Tuhanmu, tak akan kami menyembahnya!
Tuhanmu hanya bersembunyi di balik angkasa.
Kirimkan Tuhanmu, bantu kami
Memuaskan dahaga dalam diri.

Hari ini, kami mengadakan sabat.
tidak, tidak, tak ada waktu buat bertobat.
Oh, lihat disana.
para pemuka dan orang tua
Bernyanyi memuji, pada benda tak bergerak
tak berarti.

Jumat, 22 Februari 2013

Aku dan Bayanganmu

Aku terbangun bersama bayanganmu di dekapanku
Ia dingin.
Tidak seperti kamu
Hal yang paling aku nantikan di peraduan.

Aku makan bersama si bayangan.
Tak pernah aku lupa kau pergi meninggalkan senyuman
Namun, tepat di hadapanku
Si bayangan menatapku dengan penuh penghakiman.

Aku berjalan bersama dua bayangan.
Orang-orang menatapku aneh
Ada tatapan-tatapan yang tak bisa dijelaskan
bersama ocehan dalam hati tanpa ampun.
Dua bayangan itu bergandengan
Mereka seperti impian yang pernah kita tanggung bersama.
Hidup berdua, dalam dunia kita
Tanpa ada yang mengadili pun menghakimi
Di kehidupan itu kita bebas seperti mereka,
Dua bayangan yang selalu dinaungi matahari.
Dan tak pernah ada siapapun lagi.

Di hadapan layar perak aku termenung.
Itu saat ketika aku sedang ceria, tahu akan menulis apa
Tapi ia disana. Memelukku.
Membawa dingin dan sedih serta pilu
Aku tak bisa menulis lagi.

Aku tidur bersama bayangan
Dia menciumku.
Membangkitkanku masa laluku bersamamu..

Kenapa kau lakukan itu? 
Apa?
Kau tidak jujur kepadaku
Tentang kita dan tentang aku.

Aku tidak mengerti..
Aku selalu berusaha menjadi impianmu.
Pria yang lahir dari keinginanmu yang dikabulkan peri
Aku harus bagaimana lagi?

Aku hanya ingin kau menjadi dirimu sendiri
Aku mau, zaman takkan mengubahmu

AKU TIDAK MENGERTI!
apa maumu?
Aku tetap menjadi diri ini sendiri!
Aku berusaha menjadi yang terbaik untukmu..

Itu masalahmu.
Ketika kau membuat dirimu diatas lainnya dirimu.
Kau telah bersamanya menguburku.
Kau takkan bisa melihat aku

Pagi ini aku terbangun tanpa bayanganmu.
Tapi hatiku dingin
dan liter demi liter darah dalam tubuh ini
membeku bersamanya.
Aku seperti bangkit dari kehidupan.
Ya, saat ini aku seperti mati.

Tak ada lagi penghakiman
beserta dingin yang menusuk bersamanya.
Tak ada lagi mimpi pupus yang aku sesali
hanya untuk menjalani hari demi hari.
Bayangnmu telah mati.

Tapi..
Apa ini?
Adalah jiwaku yang tersesat dalam sebuah labirin.
LABIRIN..
tersesat hilang aku.
Dalam wajah-wajahku yang lain.

Senin, 14 Mei 2012

Antara Dua Insan

Kau sudah menunggu begitu lama
Maka saatnya bagiku untuk pulang.

Aku tak berani menanggulangi janji
atas emas, atas sutra, atas nama
atas pentas kita di pelaminan nanti
aku gagal, sangat gagal

Tak perlu kamu begitu
melihatmu datang, habis dari seberang
penatku hilang
bersama rindu pergi melayang

Aku harus begini, percayalah harus begini!
aku tidak mau lupa, aku tidak mau lari.
Aku tidak ingin menjadi perompak
mencubumu, lalu menusuk membunuh mimpi-mimpi

Bagiku kamu selalu sama
kamu adalah dia yang datang dengan kecupan
untuk meredakan keputusasaan. kamu adalah dia
beserah sumpah padaku, untukku apapun kau lakukan.

Aku malu, aku lebih baik mati

Jangan, karena bila kamu mati
aku juga akan mati

Tak perlu kau begitu
tak perlu kau bersedu sedan untukku

Maka berhentilah kamu begitu
dan berjanjilah
untuk mencoba menyelesaikan apa yang telah kamu mulai

Baik.
Bagimu, tak akan ada kekecewaan kedua

Bagiku, api dari hatimu
lebih terang dari lampion-lampion
yang kelak menemani kita dan para tamu


Dia sudah menunggu lama
Dia datang jua
dari tanah dimana perak, sekalipun emas
berserak

Mereka bersapa
Mereka bercanda
Bercumbu dalam tilam megah malam

Janji yang tidak terbeli
Hati yang melihat api
kata-kata kosong tak berarti
dibayar habis dengan luapan nurani

Bandung 14 Mei '12

Jumat, 04 Mei 2012

Pelangi dan Bunga Matahari

aku terbaring
setelah logam itu menembus diri
aku bisa melihat cuaca sedang hangat
tapi aku merasa dingin.

saat ini
adalah saat, sesaat setelah tensi meredam dengan sendirinya
saat dentuman dan desingan benda melayang hilang
saat ini adalah saat bantuan datang.

aku terpaku
pada tangan yang menerpaku
membiarkan sedikit kehangatan datang
setelah aku menyaksikan banyak nafas hilang.

hanya 30 detik
aku tahu aku bisa mencintai dia selamanya
tapi aku tahu. di sana.
aku dan dia bisa bersama sangat sangat lama.

"lihat aku! dengarkanku!
ayo tetap bersamaku!"
"aku disini, aku distu bersamamu
dalam benakmu yang berisi takut akan kehilanganku."

saat kau membalut
aku takut aku tak bisa terbalut
dalam benakmu
dimana aku akan membuat ledakkan rindu sewaktu-waktu.

kau bilang
tunggu aku, aku akan kembali
dengan penyokong nyawa
bersama harapanmu

dari duduk
aku bisa tahu, truk itu sudah penuh
aku dan yang lain tak bisa terangkut
aku duduk bersama teman-temanku yang mulai membusuk.

aku sangat berharap kau kembali
dan menyentuhku lagi
berbagi kehangatan untukku
karena milikku kini, sudah mulai hilang.

aku bisa melihat cuaca sedang hangat
tapi aku merasa dingin
dan sebetulnya tadi dingin disini
dari air yang jatuh dari langit
aku terduduk dengan luka menganga di kepala
tapi entah kenapa aku sangat tahu
diantara dua pemandangan ini
yaitu pelangi dan bunga matahari
aku sangat tahu
ketika kau kembali
kau mendapati ku sudah pergi.

Bandung 4 Mei '12

Jumat, 02 Maret 2012

perjalanan astral

I

hari yang dulu ku kenal selalu terang
tiba-tiba menghilang.
seperti matahari
dimakan raksasa bumi
atau..
penglihatanku yang telah mati.

tapi tidak..
semuanya terkuak.
saat jiwa ini hilang dari tanah.
melayang.
melihat diri terbujur kaku
tanpa ekspresi atau nafsu.


II

dari kehidupan yang penuh akan kebosanan
hingga kini.
kehidupan yang terasa semu
aku bisa melihat apa yang orang lihat
saat aku tak terlihat.

dari iba yang palsu
hingga tangis dari dalam hati yang tersedu-sedu.

aku sebuah koma
aku berhenti sejenak, lalu akan beranjak.


III

air mata iba
mencucurkan rasa, menumpah ruahkannya ke segala
atau membuatnya menjadi kedok rahasia manusia

dalam kawanan itu.
dalam hingar-bingar kilat putih.
hati yang yang tertunduk, takluk atas kemunafikan.
dan kebohongan

aku hanya bisa melihat

IV

dari alam berwarna abu
tangan menengadah dan ada pula
mata yang meratap penuh ragu

menunggu butiran kekuningan
atau keperakan jatuh
dari tangan ke tangan.

"biarlah hanya tangan INI yang tahu.."

sampai segitukah?
wahai kalian makhluk yang
berberkah?
dengan tangan menengadah

menipu belas kasih manusia.
dengan muka muram dan
wajah manis, nan lemah, nan kecil-mungil
nan lugu

atau
kalian yang seperti ditelantarkan kehidupan
kalian yang menanggung cobaan Tuhan
kalian, ladang kami berbuat kebaikan

hati sejati tak ada berdusta.
Tuhan melihat hati,
Tuhan tahu mana yang baik dan keji
mungkin hanya butuh niat tulus
tanpa iming-iming pencitraan baik
memakai akal bulus.

aku hanya melihat

V

aku tak ingin dulu kembali
aku ingin terus menjelajah lagi..
aku tetap sebuah koma



Kamis, 09 Februari 2012

untuk pencurah abstrak

"aku hanya mengetik
pada sosial media
terdengar menggelitik
dan kadang berbahaya"
"mungkin bukan niat
untuk membuat
curahan-curahan
yang seringnya terlihat murahan"
"mungkin hanya ini yang dilakukan
agar mata yang tertutup, terbuka
dan hati yang temaram, terang
seperti berbisik di tengah keramaian"
"sulit mungkin untuk dimengerti
terserah kau mau bilang apa
dari pengecut hingga banci
mungkin tangan di atas keyboard ini
dapat bergerak sendiri"

Antapani, 10/02/2012

Senin, 06 Februari 2012

seperti jauh

selalu tertatih, hingga letih
sampai teriak berubah menjadi lirih
dari lembar-lembar putih
yang menghitam, cepat tanpa belas kasih

tergoda dunia
kalian belum melihat neraka
hitam tak seperti surga
putih

menunggu sesosok jiwa pulih
dari tragedi yang sudah terjadi
tak ada waktu untuk bersedih
hanya menimbulkan letih
kembali
aku tengadahkan tangan
meminta pertolongan yang begitu dekat
datang
dari yang kelihatan
seperti jauh

Minggu, 29 Januari 2012

"Aku dengan Keramaian"

Hanya bicara dengan lembar..
demi lembar halaman buku
Bercinta dengan tiap halamannya
sampai ada rasa menusuk kalbu
Bercumbu dengan tiap kata dalam karya,
aku

Berbicara dalam hati,
setelah intrapersonal mati
Melihat dari dalam kepala
mata hitam, kosong tak bersinar
pun tak berpijar
Memandang ke jauh
ke dekat
tak terlihat

Sepasang mata berkuda-kuda
penembak jitu dari dalam senja
mengejar, mengincar

Blitzkrieg, secepat kilat
tak menyisakan ruang
untuk berdiam
Sembunyi, duduk di dalam sunyi
hanyalah aku yang terpisah
dari kehidupan duniawi.

"Tuan Rumah"

Tuan Rumah ramah
Siap sedia beramah tamah
Tamu berdatangan tak terhingga

Tuan Rumah menerima segala
Mau yang meludah, atau yang bercinta di halaman rumah
Tamu adalah Raja

Tuan Rumah marah
Semua yang disedianya dijarah
Terjarah tamu-tamu prasejarah
Semua tinggal nama

Tuan Rumah angkat tangan, ia menyerah
Untuk Dunia yang ia lihat sekarang
"Tuhan tidak adil! Tuhan tidak adil!"
serunya lantang, menantang
Tuhan tertawa dan menoleh menolaknya

Tamu-tamu pergi, Tuan Rumah sendiri
Saling sindir-menyindir dengan bayangan diri dalam cermin
dan bayangan dalam hati.

Minggu, 17 Juli 2011

Dia bukan Kamu

dia bukan kamu

I
dia bukan kamu
dia orang yang yang punya segalanya
dari "mer-c" sampai patung berhala
sedangkan
kamu orang yang sederhana, cinta bukan pembelaan bagimu
cinta bagimu adalah api yang membuatmu tetap hidup
jadi
dia bukan kamu

dia bukan kamu
dia orang yang berjalan dengan dagu terangkat sampai hampir menyentuh langit
dada yang terbusung menandaan ia jauh terlambung, diombang-ambing emas dan kertas
tapi
kamu bukan dia
kamu orang yang berjalan dengan bibir melebar sekitar 1 centi ke kiri dan kanan
dengan mata yang terkadang memandang jauh kedepan atau tertunduk ke bawah
berempati kepada yang lemah
jadi
dia bukan kamu

dia bukan kamu
dia orang yang memahami dari sisi yang fana. berfoya-foya
sedangkan
kamu orang yang mendalami hidup dari cinta dan rasa hasil sekresinya
dia bukan kamu

II

dia orang yang sesungguhnya dekat tapi sesuatu membuatku jauh dari dia
kamu orang yang sesungguhnya jauh tapi dengan seutas tambang setebal bulu rambut
jarak itu tak berarti
seperti angka nol yang mati

mungkin aku sering melihat dia sebagai aku yang berpura-pura
sebagai aku yang berbohong
tapi denganmu mungkin aku tidak perlu berpura-pura
aku bisa datang apa adanya, sebagai orang yang mulia atau sebagai aku di dalam matamu

dia itu istimewa, tapi karenanya dia asing dari nalar dan pikiranku tentang seseorang
aku hanya diam dan berpura-pura lagi
kamu itu biasa, tapi karenanya aku memahamimu sebagai sesuatu hingga aku tidak merusak nalar dan pikiranku kembali

dia bukan kamu
itu kesimpulan dari semuanya
tapi dengan adanya ini semua
benakku jadi sempit dibuatnya

(III-IV..)

Kamis, 30 Juni 2011

Thursday night's grey ballad

something is already gone here
i already lose myself mentally
it is always about what i want and what i need
two things that different in paths

i am not brighter than black
nor shinier than grey
i just found myself in acorner of a big hall
day dreaming

in that time all i can think is
everyone and someone is useless
i only believe in myself, talk to no one but myself
i think from the start maybe you are not the one that i always seek

God, i didn't blame you for all of this
i just have myself, take it all alone
the love and hatred to the same being
red, is taking control now

seeking and analyzing a cure
only reminding me of a letter which i should write for showing condolence
which happens between humans called "you" and "me"
and got broken by flames of loneliness

should i burn th bridge that connect us all along?
shit, i should have the answer now!
we are lame just accept that! please, say you hate me!
until the bridge explode and i can keep my hands clean

good night dear, i hope you don't dreamed about me tonight
'cause i don't want to be a part of your life anymore
still, you can ask me to sing a last song
and we named it "forgetting"