Rabu, 20 Juli 2011

Disco 2000

       Orang-orang bilang kami dilahirkan dengan selisih satu jam saja. Masing-masing Ibu kami berpikiran kami ini seperti bersaudara karena selisih waktu kelahiran kami yang tidak terlalu beda jauh itu. Debora, ya itu namanya. Nama wanita yang lahir hampir bersamaan denganku. Menurutku nama itu kurang cocok. Kenapa ibunya tidak menamai dia Susan atau Susie atau yang lain? ya yang aku maksud.. ayolah, Debora?? Hmmmh..
       Itulah pembuka atau awal catatanku ini semua tentang aku, debora, orang lain, mereka, pria lain dan Debora dan lain-lain. Oke, Aku sudah mengenal debora bahkan ketika kami masih balita. Dia selalu jadi primadona mataku, jika dibandingkan dengan Marilyn Monroe belum ada apa-apanya dibandingkan Debora. Setidaknya itu yang ada di dalam benak seorang bocah laki-laki yang sebulan lagi genap 5 tahun. ya, aku. Kami sama-sama masuk di SD yang sama, SMP yang sama dan SMA yang sama. Sial, itulah yang membuatku tidak tenang. Ini seperti takdir. Seakan-akan Tuhan menakdirkan kami agar selalu bersama setiap saat..
       Seperti yang terjadi pada mataku, Debora menjadi primadona di mata anak Laki-laki di sekolah. Bagaimana tidak? Dia yang paling menarik, tampangnya asik, dan yang paling penting adalah, di sekolah dialah anak perempuan yang memiliki buah dada. Ehm, bukannya aku ini seorang mata keranjang atau semacamnya setiap anak laki-laki di sekolah tau itu!
       Lalu ada Martin. Jika Debora adalah gadis pujaan di sekolah maka Martin adalah sebaliknya.. Pria hinaan. emmh, ya setidaknya itu menurutku karena.. Kau tahu? dari air muka kebanyakan anak laki-laki terhadap Martin mereka memasang tampan asik.. sok asik. Di dalam hati mereka yang paling dalam aku yakin mereka sebenarnya berusaha menyembunyikan pisau dibalik punggung mereka ketika berhadapan dengan Martin dan jika ada kesempatan.. Sleb!.. kau tahu cerita selanjutnya. Ya, Martin yang dipuja oleh gadis-gadis di sekolah menyukai Debora. Hhhh kabar bagus lainnya.. sangat menarik!
       Hidup seperti ini terkadang memberi beban padaku. Ya, ini memang pernyataan rang cengeng. Tapi itulah kenyataannya. coba kalian bayangkan, bagaimana jika kalian adalah seorang anak laki-laki yang pemalu, tidak menyukai keramaian karena keramaian membunuhnya, dan untuk menunjukkan kesukaan terhadap lawan jenis kamu gagap sekali. Lagi, ketika kamu melihat pujaanmu bersama yang lain kau hanya iri, mendoktrin dirimu lemah dan bodoh saat itu juga. Hal seperti itu terjadi padaku. Waktu pulang sekolah aku melewati satu  koridor yang sepi, tiba-tiba aku mendengar keramain di arah yang lain. Ketika aku menuju sumbernya yang aku lihat ternyata sekelompok anak laki-laki yang menggoda Debora. Tapi, tidak hanya itu saja. Kelanjutan dari kejadian tersebut adalah mereka mencoba membuat Semua pakaian yang menempel di tubuh Debora terlepas. Sial! saat itu aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya berkelahi sendiri di dalam pikiranku dengan perkara: Jika saat itu aku melakukan sesuatu apa aku harus ikut melucuti pakaiannya juga?  Dengan alasan aku suka padanya dan ternyata meskipun kurang jelas aku menginginkan itu juga. Atau aku seharusnya menolong Debora lalu terlihat heroik setelahnya.. Ya, setelah babak belur dihabisi anak-anak itu.
       Pada akhirnya hubunganku dengan Debora hanya sjauh sampai kata teman saja. Meskipun aku mencoba untuk lebih dekat, seperti pulang dengan berjalan kaki ke rumah bersamanya. Tapi, sepertinya dia tidak menganggap itu bukan apa-apa. Ketenaran menutupinya.
       Saat ini, saat aku menulis tulisan ini. Sudah berlangsung 3 tahun lamanya setelah peristiwa terbaru antara aku dengan Debora. Setelah kami lulus aku mengatakan sesuatu kepadanya sebagai seorang teman, sebuah ajakan. Ajakan untuk bertemu di tahun dimana 5 tahun tepat dari kelulusan kami. Tahun 2000. Di tahun itu di sebuah air mancur di jalan dimana kami pernah tinggal berdampingan sebagai tetangga kenyataan itu merusak hari itu. Dia sudah menjadi milik orang lain.
       Sekarang aku cuma hidup sendiri di kontrakan tua dimana warna di sudut-sudutnya telah kusam dan usang. Seperti aku yang menjalani hidup berwarna sama. Untuk mencerahkan hidupku ini aku sering mencoba mengajaknya mengunjungiku, bertamu ke tempatku,bertemu denganku. Walaupun saat datang kemari ia harus membawa serta buah hati dan kekasih hatinya.


(terinspirasi dari lagu dengan judul yang sama yang dipopulerkan oleh Pulp)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar